Takut tidak mendapat uang kompensasi delay, sejumlah penumpang maskapai Lion Air di Bandara Soekarno-Hatta menyandera Kapten Daniel Putut Kuncoro Adi sebagai jaminan. Peristiwa itu terjadi Kamis dinihari, sekitar pukul 03.00 WIB, 19 Februari 2015.
Kapten Daniel Putut Kuncoro menceritakan peristiwa penyanderaan yang dialaminya. Direktur Air Service Lion Air itu mengatakan, para penumpang yang sudah murka saat itu membawanya menuju ke Medan.
Sesampainya di Medan, sebanyak ratusan penumpang akhirnya mendapatkan kompensasi. Setelah itu dia baru diizinkan pulang kembali ke Jakarta.
"Dibawa dari Soetta ke Medan sebagai jaminan. Sampai jam dua siang, saya baru balik lagi ke Jakarta. Tapi saya duduk tenang kok," ujar Kapten Daniel, Senin 23 Februari 2015.
Saat peristiwa penyanderaan itu terjadi, Kapten Daniel mengaku handphonenya sedang di-charge di kantor. Sehingga, saat itu dia tidak dapat berkomunikasi dengan siapapun.
Kondisinya saat itu, tidak memungkinkan banyak bergerak, karena sudah disandera para penumpang. Dia sudah tidak mempedulikan lagi dua buahhandphone-nya hilang pada saat peristiwa itu.
"Wajar kalau banyak panggilan saya tidak tahu. Apalagi waktu itu saya lagi disandera penumpang," kata Daniel.
Daniel menyayangkan aksi segelintir orang yang tidak bertanggung jawab, memanfaatkan kesempatan semrawutnya maskapai penerbangan Lion Air. Mereka mengaku sebagai penumpang, tapi tidak dapat membuktikannya.
"Jumat sekitar lima orang kita laporkan ke Polisi, mereka datang minta ganti rugi, bawaboarding pass tapi disuruh menunjukkan KTP tidak bisa. Diminta nomor handpdh juga tak sama," kata Daniel.
Daniel menambahkan, jika sampai hari ini belum ada penumpang Lion Air yang mendapat ganti rugi delay atau tidak mendapat ganti rugi tiket baru, penumpang dipersilakan datang menemuinya.
Sampai saat ini Daniel belum bisa mengalkulasi berapa kerugian yang diderita maskapai Lion Air. Menurut Daniel butuh waktu sekitar dua minggu untuk melakukan audit keuangan akibat aksi anarki penumpang.



Post a Comment